Apa yang Terjadi pada Gigi dan Wajah Anak Jika Kebiasaan Buruk Terus Berlanjut?
Sebagai orang tua, wajar jika kita terkadang membiarkan anak mengisap jempol atau menggigit bibir karena hal itu tampak menenangkan mereka. Namun, jika kebiasaan ini terus berlanjut hingga gigi permanennya mulai tumbuh, ada beberapa perubahan fisik yang bisa terjadi pada senyum dan wajah anak.
Berikut adalah dampak dari masing-masing kebiasaan:
1. Mengisap Jempol atau Jari (Thumb Sucking)
Jempol yang terus-menerus berada di dalam mulut akan menekan langit-langit dan mendorong gigi-gigi depan.
Dampak pada Gigi: Gigi depan atas akan terdorong ke depan menjadi "tonggos", sedangkan gigi depan bawah akan tertekan ke arah dalam. Sering kali, terbentuk celah atau "gigitan terbuka", di mana gigi atas dan bawah tidak bisa saling bersentuhan saat anak menggigit makanan.
Dampak pada Wajah: Tekanan dari isapan pipi membuat rahang atas anak menyempit. Langit-langit mulut menjadi lebih melengkung ke atas dan dalam.
2. Bernapas Melalui Mulut (Mouth Breathing)
Anak yang sering pilek, alergi, atau memiliki amandel besar sering kali terpaksa bernapas lewat mulut karena hidungnya tersumbat.
Dampak pada Gigi: Karena mulut sering terbuka, air liur menjadi cepat kering. Padahal, air liur berfungsi "mencuci" gigi. Akibatnya, anak lebih mudah mengalami gigi berlubang dan gusi bengkak kemerahan. Posisi gigi juga cenderung menjadi berantakan karena rahang kurang berkembang.
Dampak pada Wajah: Anak yang selalu bernapas lewat mulut perlahan-lahan akan menunjukkan perubahan bentuk wajah. Wajahnya cenderung terlihat lebih panjang, bibir atasnya tampak pendek (sehingga susah menutup mulut secara alami), dan rahang bawahnya agak mundur. Pandangannya juga sering kali terlihat sayu atau lelah.
3. Mendorong Lidah ke Depan (Tongue Thrusting)
Normalnya, saat menelan, lidah kita bersandar di langit-langit atas. Pada anak dengan kebiasaan ini, lidahnya justru menekan kuat bagian belakang gigi depan.
Dampak pada Gigi: Dorongan lidah yang kuat dan berulang-ulang akan membuat gigi depan atas semakin maju (tonggos) dan renggang (bercelah).
Dampak pada Wajah: Karena posisi gigi yang maju, anak menjadi kesulitan untuk menutup bibirnya dengan rapat saat keadaan diam atau sedang istirahat.
4. Kerot atau Menggemeretakkan Gigi saat Tidur (Bruxism)
Kebiasaan ini sering terjadi saat anak sedang tidur nyenyak, di mana rahang atas dan bawah bergesekan dengan sangat kuat, kadang hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.
Dampak pada Gigi: Gesekan yang kuat membuat lapisan pelindung gigi (email) cepat terkikis. Permukaan gigi anak akan terlihat rata, aus, atau bahkan lebih pendek dari ukuran normalnya.
Dampak pada Wajah: Saat anak sering kerot, otot-otot di area pipi dan rahang (otot pengunyah) akan bekerja ekstra dan menjadi tegang. Karena anak-anak jarang mengeluhkan rasa sakit atau nyeri akibat kebiasaan ini, orang tua sering kali baru menyadarinya ketika melihat bentuk gigi yang sudah mulai rata atau saat mengamati otot pipi anak yang tampak tegang.
5. Menggigit Bibir (Lip Biting)
Biasanya yang digigit adalah bibir bagian bawah. Kebiasaan ini sering muncul jika anak sudah memiliki gigi depan atas yang agak maju, sehingga bibir bawah dengan mudah terselip di belakang gigi atas.
Dampak pada Gigi: Gigi depan atas akan semakin terdorong keluar (makin maju), dan gigi bawah akan semakin tertekan ke arah lidah (makin mundur).
Dampak pada Wajah: Kulit di area bibir bawah atau sekitarnya sering terlihat merah, kering, pecah-pecah, atau bahkan mengalami iritasi kronis akibat sering digigit atau dibasahi oleh air liur.
Tips Singkat untuk Orang Tua: Jika Ayah dan Ibu melihat kebiasaan-kebiasaan di atas masih sering dilakukan oleh si kecil (terutama jika usianya sudah di atas 4 tahun), sangat disarankan untuk segera mengonsultasikannya ke dokter gigi anak. Semakin cepat kebiasaan ini dihentikan, semakin mudah pula struktur gigi dan rahang anak untuk kembali tumbuh secara normal tanpa perlu perawatan yang rumit di kemudian hari.